Pada tanggal 17 Maret 2025, SMP Al-Islam Surakarta menggelar pelatihan bertema “Living Core Values Education,” yang dihadiri oleh semua guru dan tenaga kependidikan. Dalam rangkaian program rebranding berbasis core values, pelatihan ini dipandu oleh dua trainer berpengalaman, Dr. Muqowim dan Ziadatul Husnah, M.Pd., dari Rumah Kearifan, yang merupakan accredited trainer Living Values Education (LVE). Kegiatan ini bertujuan untuk membekali pendidik dengan pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan nilai-nilai inti di lingkungan sekolah.
Dr. Muqowim membuka sesi pelatihan dengan menekankan pentingnya mengubah mindset guru dalam mengajarkan nilai-nilai inti.
Dr. Muqowim membuka sesi pelatihan dengan menekankan pentingnya mengubah mindset guru dalam mengajarkan nilai-nilai inti. “Core values di sekolah tidak perlu diajarkan secara tekstual, tetapi harus dicontohkan dan dimodelkan dalam setiap tindakan kita,” ujarnya. Pesan ini langsung mengundang perhatian peserta, yang menyadari betapa pentingnya peran mereka sebagai teladan dalam pendidikan karakter siswa.
Ziadatul Husnah, M.Pd., kemudian menjelaskan empat core values yang menjadi landasan di SMALSA: kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keramahan.
Ziadatul Husnah, M.Pd., kemudian menjelaskan empat core values yang menjadi landasan di SMALSA: kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keramahan. “Nilai-nilai ini harus dihidupkan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah agar siswa tidak hanya memahami, tetapi merasakan dan menerapkannya dalam kehidupan mereka,” tegasnya. Peserta pun diminta untuk berpikir bagaimana cara mereka bisa membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kelas dan interaksi dengan siswa.

Pelatihan ini bukan hanya sekadar teori; peserta terlibat dalam serangkaian aktivitas interaktif yang mendorong mereka untuk berlatih menerapkan core values secara langsung. Dalam kelompok kecil, mereka mendiskusikan tantangan yang dihadapi dan berbagi strategi yang berhasil diterapkan dalam pengajaran. Momen ini menciptakan suasana kolaboratif, di mana setiap orang merasa berkontribusi dalam membangun budaya sekolah yang lebih baik.
Salah satu sesi yang menarik adalah simulasi pengajaran di mana para peserta diminta untuk menunjukkan bagaimana mereka akan menghidupkan nilai-nilai inti tersebut dalam pembelajaran. “Jika nilai-nilai kami tidak terlihat dan dirasakan, maka sulit bagi siswa untuk mengambilnya sebagai teladan,” kata seorang peserta, mencerminkan pemikiran yang terpupuk selama sesi.
Kepala SMP Al-Islam Surakarta mengekspresikan harapannya agar pelatihan ini menjadi tonggak awal transformasi pendidikan di sekolah.
Kepala SMP Al-Islam Surakarta mengekspresikan harapannya agar pelatihan ini menjadi tonggak awal transformasi pendidikan di sekolah. “Kami ingin setiap guru bukan hanya menjadi pendidik, tetapi juga penanam nilai dalam diri setiap siswa,” ujarnya, mengingatkan pentingnya sinergi antara pendidikan akademis dan pengembangan karakter.
Pelatihan “Living Core Values Education” di SMP Al-Islam Surakarta bukan hanya sekadar pelatihan biasa, tetapi langkah konkret menuju perubahan. Dengan menghidupkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keramahan, diharapkan SMALSA dapat melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak baik. Kegiatan ini menegaskan bahwa pendidikan adalah tentang membentuk karakter, bukan sekadar transfer ilmu.

