Gnothi Seauton, Kenali Dirimu Sendiri!

Dr. Muqowim, M. Ag.
Rumah Kearifan (House of Wisdom)


Gnothi Seauton Kai Meden Agan adalah pernyataan dari Socrates, seorang filosof asal Yunani. Ungkapan tersebut artinya “Kenalilah dirimu sendiri, dan jangan berlebihan”. Tulisan ini terdapat pada Kuil orakel di Delphi Dewa Apollo. Kata-kata guru Plato tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya kesadaran terhadap diri sendiri atau “sadar diri”. Kesadaran untuk lebih mengenal siapa diri kita menjadi hal penting saat ini, terlebih di era disrupsi, di mana kita lebih sibuk melihat sesuatu di luar diri kita (outward looking). Kita lebih banyak mencurahkan perhatian terhadap orang lain, mudah menilai (evaluating), menghakimi (judging), menganalisa (analyzing), dan membandingkan (comparing) orang lain. Efeknya antara lain kita mudah terbawa atau dipengaruhi oleh sesuatu “di luar sana”. Kita lebih banyak dikendalikan oleh realitas sekitar. Dalam konteks ini, menurut Muhammad Iqbal, seorang filosof dan penyair asal Indo-Pakistan, kita lebih mempunyai mystical consciousness yang di antara cirinya adalah “kita larut dalam cakrawala”. Lawan dari kesadaran ini adalah kesadaran profetik (prophetic consciousness).

Menurut Iqbal, kesadaran profetik adalah “ketika cakrawala larut dalam diri kita”. Jika kesadaran mistik kita dikendalikan oleh realitas sekitar, maka kesadaran profetik kita lebih mengendalikan realitas sekitar. Untuk dapat melakukan hal ini, kita harus menyadari siapa diri kita. Kita harus sering melakukan inner journey, perjalanan kedalam diri, dan inward looking, melihat jauh ke dalam diri sendiri. Perjalanan kedalam ini menjadikan kita sadar diri tentang siapa kita, dari mana kita berasal, tujuan hidup kita ke mana dan sekarang kita dalam posisi seperti apa. Berbagai pertanyaan tersebut dapat menyadarkan kita sebagai diri sendiri dan kita mampu membangun relasi positif dengan Allah, dengan lingkungan alam, dan dengan sesama manusia. Karena itu, pengetahuan yang mendalam tentang siapa diri kita akan mengantarkan kita menuju Allah. Dalam sebuah ungkapan di dunia tasawuf, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, man ‘arafa qalbahu faqad ‘arafa nafsahu”, barang siapa mengenal dirinya sendiri dia akan mengenal siapa Tuhannya, barang siapa mengenal hatinya maka dia akan mengenal diri sendiri. Kunci mengenal Allah adalah mengenali hati kita sendiri.

Kunci mengenal Allah adalah mengenali hati kita sendiri.

Dr. Muqowim, M. Ag.

Pentingnya kesadaran diri ini menjadi fokus dan perhatian utama para pemikir seperti Paulo Freire, Ibrahim Elfiky, dan Daniel Goleman. Paulo Freire, seorang pedagog kritis asal Brasil, membagi kesadaran menjadi tiga yaitu kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naif (naïve consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness). Ketiga kesadaran tersebut tampak sekali ketika kita dihadapkan pada persoalan. Ketika menghadapi masalah pemilik kesadaran magis cenderung mengatakan “ini adalah takdir dari Tuhan”, karena itu terima saja nasib yang sudah ditentukan oleh-Nya, tidak perlu banyak protes. Ketika dihadapkan pada masalah pemilik kesadaran naif menyadari berbagai hal yang menyebabkan masalah tersebut terjadi namun dia tidak berdaya dan tidak mampu mengatasinya. Sementara itu, pemilik kesadaran kritis ketika menghadapi persoalan akan mengidentifikasi dan menganalisis berbagai penyebab secara kritis. Bagi pemilik kesadaran ini, persoalan muncul lebih disebabkan oleh struktur kekuasaan yang kurang memihak kepada kita sehingga perlu diberikan masukan dan saran untuk mengubah struktur tersebut.

Seperti halnya Freire, Elfiky dalam salah satu karyanya Personal Power, mengatakan bahwa kesadaran merupakan kekuatan pertama yang harus kita miliki dan bangkitkan jika kita ingin menjadi orang hebat dan bermartabat. Kesadaran menjadi kunci membangkitkan enam kekuatan lainnya yaitu kekuatan tujuan (goalsetting), kekuatan keyakinan (belief), kekuatan cinta (love), kekuatan energi positif (positive energy), kekuatan fokus (concentration) dan kekuatan keputusan (decision). Enam kekuatan ini tidak akan kita miliki jika kita tidak mempunyai kekuatan kesadaran. Dengan kesadaran ini kita mampu memetakan diri (self-mapping) terkait apa kelebihan dan kekurangan yang kita miliki, tonggak-tonggak (milestones) bersejarah yang pernah kita miliki, sudah berapa target yang kita buat sudah tercapai, dan kita tahu posisi kita saat ini. Berdasarkan hal tersebut kita melakukan self-reflecting dan menyusun langkah menuju masa depan yang dicita-citakan atau mimpikan.

Sementara itu, Goleman, penulis Emotional Intelligence, berpendapat bahwa kesadaran diri (self-awareness) merupakan tahapan pertama sebelum tahapan pengaturan diri (self-regulation), motivasi, empati dan keterampilan sosial (social skill). Lima tahapan dalam kecerdasan emosi ini tidak akan dapat kita miliki tanpa didahului kesadaran diri. Melalui kesadaran diri ini kita lebih mengetahui tentang apa saja emosi positif dan negatif yang paling sering dirasakan. Kita perlu berhenti sejenak untuk merenungkan setiap emosi tersebut terkait penyebabnya, apa efek emosi tersebut terhadap diri kita secara internal dan apa efek emosi tersebut terhadap lingkungan sekitar. Semakin detil kita mampu memetakan semua emosi tersebut semakin kita mampu mengelola dan mengatasinya. Sebagai contoh, ketika kita marah kita menyadari penyebab munculnya kemarahan tersebut, efek marah terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dengan kesadaran ini pada akhirnya kita mampu mengendalikan diri ketika muncul emosi negatif dan kita mampu mengelola emosi tersebut. Karena itu, mengenali diri tentang siapa kita dengan penuh kesadaran menjadi kunci menuju perubahan.

About Muqowim

Pembina Rumah Kearifan (House of Wisdom). Accredited Trainer LVE. Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

View all posts by Muqowim →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.