Kuliah Tamu “Kurikulum Berbasis Cinta untuk Menumbuhkan Empati dan Sekolah Ramah Anak” di Universitas Maarif Lampung

Kuliah Tamu "Kurikulum Berbasis Cinta untuk Menumbuhkan Empati dan Sekolah Ramah Anak" di Universitas Maarif Lampung

Pada tanggal 20 November 2025, Universitas Maarif Lampung (UMALA) sukses menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema “Kurikulum Berbasis Cinta untuk Menumbuhkan Empati dan Sekolah Ramah Anak.” Acara ini dihadiri oleh 250 peserta yang berasal dari seluruh program studi di Fakultas Tarbiyah, dan bertujuan untuk memberikan wawasan tentang pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai cinta dan empati dalam pendidikan.

Acara ini menjadi platform untuk mengeksplorasi bagaimana kurikulum berbasis cinta dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang mendukung perkembangan anak.

Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari pihak fakultas, yang menekankan pentingnya tema ini dalam konteks pendidikan modern, di mana pengembangan karakter siswa menjadi semakin penting. Acara ini menjadi platform untuk mengeksplorasi bagaimana kurikulum berbasis cinta dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang mendukung perkembangan anak.

… pentingnya menciptakan sekolah yang ramah anak, di mana setiap siswa merasa dihargai dan didengarkan.

Pembicara utama dalam kuliah tamu ini adalah Dr. Muqowim, dosen dari FITK UIN Sunan Kalijaga, dan Ziadatul Husnah, M.Pd., Direktur Rumah Kearifan. Dr. Muqowim memulai sesi dengan menjelaskan konsep kurikulum berbasis cinta, yang berfokus pada penanaman nilai-nilai empati dan perhatian terhadap sesama. Ia berbicara mengenai pentingnya menciptakan sekolah yang ramah anak, di mana setiap siswa merasa dihargai dan didengarkan.

… pengajaran berbasis pengalaman dan kegiatan kolaboratif yang mengajak siswa untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain.

Ziadatul Husnah kemudian menambahkan perspektif tentang bagaimana penerapan kurikulum berbasis cinta dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Beliau membagikan berbagai strategi praktis yang dapat diterapkan oleh pendidik untuk menumbuhkan empati di kalangan siswa. Contohnya, pengajaran berbasis pengalaman dan kegiatan kolaboratif yang mengajak siswa untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain.

Selama sesi kuliah, peserta sangat antusias mendengarkan pemaparan dan aktif bertanya mengenai bagaimana menerapkan konsep ini di lingkungan pendidikan mereka. Diskusi dibuka mengenai tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasi kurikulum berbasis cinta, serta ide-ide kreatif untuk mengatasi tantangan tersebut.

Kegiatan ini diakhiri dengan kesimpulan bahwa pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter dan nilai-nilai positif di dalam diri siswa. Dr. Muqowim dan Ziadatul Husnah mengajak semua peserta untuk menggandeng tangan dalam mewujudkan sekolah ramah anak yang tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi juga meningkatkan empati dan kasih sayang di lingkungan belajar.

Kuliah tamu ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan pendidikan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada perkembangan karakter anak.

Dengan semangat dan inspirasi yang diperoleh dari kuliah tamu ini, diharapkan para peserta dapat membawa pulang ilmu dan motivasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik bagi siswa di masa depan. Kuliah tamu ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan pendidikan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada perkembangan karakter anak.