The Transforming Power of Love in Education

The Transforming Power of Love in Education

Pada tanggal 17 Oktober 2025, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Achmad Sidiq (KHAS) Jember menyelenggarakan Seminar Nasional bertemakan “The Transforming Power of Love in Education.” Kegiatan ini dihadiri oleh pendidik, mahasiswa, dan praktisi pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap pentingnya nilai cinta dalam dunia pendidikan. Seminar ini mengundang dua pembicara utama, yaitu Jim Baton dari Peace Catalyst International dan Dr. Muqowim dari UIN Sunan Kalijaga yang juga merupakan founder Rumah Kearifan.

Seminar dibuka oleh Dekan FTIK, yang menyampaikan harapannya agar seminar ini dapat menjadi wahana berbagi pengetahuan dan inspirasi dalam menerapkan prinsip cinta di dalam lembaga pendidikan. Jim Baton membuka sesi dengan presentasi mengenai pentingnya cinta dalam pendidikan. Ia menjelaskan bahwa cinta bukan hanya berbicara tentang kasih sayang, tetapi juga tentang rasa saling menghargai dan memahami satu sama lain. “Pendidikan yang berbasis cinta mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan lebih produktif,” paparnya, disertai dengan berbagai contoh nyata dari pengalaman kerjanya.

LVE berfokus pada pengembangan nilai-nilai positif melalui interaksi sehari-hari, dan sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.

Dr. Muqowim kemudian melanjutkan dengan pemaparannya mengenai konsep karakter cinta dalam pendidikan dengan pendekatan Living Values Education (LVE). Ia menjelaskan bahwa LVE berfokus pada pengembangan nilai-nilai positif melalui interaksi sehari-hari, dan sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. “Cinta dalam pendidikan memungkinkan kita untuk membangun karakter yang tidak hanya didasarkan pada pengetahuan, tetapi juga pada nilai-nilai moral yang kuat,” tegasnya.

… memasukkan nilai-nilai cinta dalam kurikulum, siswa tidak hanya belajar untuk mencapai kecerdasan akademik, tetapi juga untuk menjadi individu yang berkarakter dan empatik.

Muqowim mengaitkan tema seminar dengan program prioritas Pemerintah tentang Kurikulum Berbasis Cinta. Ia menyatakan bahwa pengimplementasian program tersebut akan lebih efektif jika menggunakan pendekatan LVE sebagai fondasi. Menurutnya, dengan memasukkan nilai-nilai cinta dalam kurikulum, siswa tidak hanya belajar untuk mencapai kecerdasan akademik, tetapi juga untuk menjadi individu yang berkarakter dan empatik.

Selama seminar, peserta diberikan kesempatan untuk berinteraksi melalui sesi tanya jawab yang aktif. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan, mengungkapkan pendapat, dan berbagi pengalaman mereka terkait penerapan nilai cinta dalam pendidikan. Diskusi ini memberikan perspektif baru dan menginspirasi para pendidik untuk mengeksplorasi cara baru dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut di kelas.

Sebagai penutup, Jim Baton memberikan beberapa tips praktis bagi pendidik untuk memasukkan nilai cinta dalam interaksi sehari-hari di sekolah, seperti menciptakan budaya saling menghargai dan mendengarkan siswa. Dr. Muqowim kemudian mengingatkan peserta bahwa penciptaan lingkungan yang berbasis cinta merupakan tanggung jawab bersama. “Kita semua memiliki peran dalam mewujudkan visi ini,” ujarnya dengan penuh semangat.

Dengan mengedepankan nilai cinta melalui pendekatan yang tepat, diharapkan generasi mendatang akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Seminar Nasional ini diharapkan dapat memberi dampak positif bagi pendidikan di Indonesia, dengan membekali para pendidik dengan wawasan baru tentang kekuatan cinta dalam pendidikan. Dengan mengedepankan nilai cinta melalui pendekatan yang tepat, diharapkan generasi mendatang akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan di masa depan.