Surakarta, 8 November 2025 – Rumah Kearifan-House of Wisdom mengadakan acara Monitoring dan Evaluasi (Monev) program rebranding lembaga pendidikan di Gedung Aula SMA Al Islam 1 Surakarta. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu ini bertujuan untuk mengkaji progres serta tantangan yang dihadapi dalam proses perubahan citra dan budaya lembaga pendidikan yang telah berjalan selama hamper satu semester ini. Ada lima sekolah dan madrasah yang terlibat dalam program rebranding ini yaitu SMALSA (SMA Al-Islam 1 Surakarta), SPALSA (SMP Al-Islam Surakarta), SKALSA (SMK Al-Islam Surakarta), MALISKA (MA Al-Islam Surakarta), dan MIPKA (MI Program Khusus Al-Islam).
Acara dimulai dengan sambutan resmi yang disampaikan oleh Drs. Ali Ghufron, Sekretaris Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya Core Values sebagai “shibghah” atau warna khas yang melekat pada setiap lembaga pendidikan. Menurutnya, nilai-nilai inti harus menjadi landasan yang membangun karakter dan identitas lembaga dengan kuat.
Lebih lanjut, Ali Ghufron menyampaikan bahwa mengubah kebiasaan dalam sebuah lembaga bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan komitmen serta kesadaran dari seluruh unsur. Ia mengajak para peserta yang terdiri dari tim inti sekolah di bawah naungan Yayasan Perguruan Al-Islam untuk benar-benar menyadari bahwa momentum kali ini merupakan kesempatan berharga untuk merefleksikan pencapaian sekaligus evaluasi terhadap berbagai rintangan yang dihadapi selama proses rebranding berlangsung.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan materi utama dari Dr. Muqowim, konsultan yang telah mendampingi proses rebranding sejak awal. Bersama Ziadatul Husnah yang bertindak sebagai fasilitator, mereka membawa perspektif mendalam tentang bagaimana rebranding harus mempertimbangkan budaya dan keunikan masing-masing lembaga.
Dr. Muqowim menjelaskan bahwa tiap lembaga pendidikan yang menjadi pilot project dalam program ini memiliki alur dan gaya yang berbeda dalam menjalankan rebranding. Hal ini membuktikan bahwa proses transformasi harus disesuaikan dengan potensi, sumber daya, serta mimpi yang dimiliki organisasi tersebut.
Dalam pemaparannya, Dr. Muqowim menegaskan lima indikator keberhasilan rebranding yang harus menjadi fokus evaluasi saat ini: kesadaran terhadap Core Values (Core Values Awareness), proses transformasi (Transformation), kesejahteraan seluruh anggota (Wellbeing), keterhubungan antar elemen lembaga (Connectedness), serta kemampuan bertindak mandiri dan berinisiatif (Agency).
Ziadatul Husnah dalam proses memfasilitasi sejak awal selalu mengingatkan bahwa fokus pada tujuan lembaga, dengan otomatis akan membantu lembaga tersebut mengenali celah dan kekuatan mereka sendiri, agar hasil rebranding bisa dilaksanakan secara optimal. Pendekatan personal dan kontekstual dinilai penting agar perubahan dapat diterima dan diinternalisasi seluruh komunitas sekolah dan madrasah.
Acara Monitoring dan Evaluasi ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang penilaian, namun juga sebagai momentum pembuka dialog dan kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui rebranding yang bermakna. Dengan dukungan dari Yayasan Perguruan Al-Islam dan Rumah Kearifan, setiap lembaga diharapkan dapat melangkah lebih percaya diri menyongsong masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing.
Pelaksanaan kegiatan ini menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat identitas lembaga pendidikan dan membangun budaya yang mendukung kemajuan serta kesejahteraan seluruh civitas akademika sekolah dan madrasah secara berkelanjutan. Evaluasi dan monitoring yang berkelanjutan menjadi kunci sukses agar nilai-nilai luhur dan karakter kuat yang diusung dalam rebranding dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk perkembangan lembaga ke depan.

